MAHASISWA KKN-T KELOMPOK 14 UAA MENGADAKAN PENYULUHAN PENCEGAHAN STUNTING DI DUSUN WATUGEDUG GUWOSARI PAJANGAN BANTUL
Guwosari (05/07) - Stunting yang terjadi pada tahap awal kehidupan atau usia dini dapat menyebabkan dampak merugikan bagi anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Khususnya, jika gangguan pertumbuhan dimulai pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan yang dihitung sejak konsepsi) hingga usia dua tahun. Pada dasarnya stunting pada balita tidak dapat disembuhkan, tapi dapat dilakukan upaya untuk perbaikan gizi balita guna meningkatkan kualitas hidupnya.
Cara mengatasi stunting yang terbaik adalah dengan melakukan pencegahan, yaitu dengan pemeriksaan kehamilan rutin, memastikan kecukupan nutrisi ibu dan bayi, deteksi dini penyakit, melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai, Insiasi menyusui dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau Makanan Pendamping ASI (MPASI), pemberian imunisasi lengkap, dan pemantauan pertumbuhan balita.
Selain itu, cara pencegahan yang bisa dilakukan yaitu salah satunya dengan adanya penyuluhan pencegahan stunting. Maka dari itu, kami mahasiswa KKN-T Guwosari Kelompok 14 Universitas Alma Ata mengadakan Penyuluhan Pencegahan Stunting yang bertempat di rumah Bapak Mistijan, selaku Kepala Dukuh Watugedug, Guwosari, Pajangan, Bantul pada 5 Juli 2022.
Penyuluhan Pencegahan Stunting ini diadakan oleh mahasiswa bersama dengan dosen dan atau staff Universitas Alma Ata yang berasal dari latar belakang pendidikan Ilmu Gizi. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja KKNT Kelompok 14 Guwosari, yang dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan edukasi dan melakukan pencegahan stunting yang ditujukan kepada ibu hamil, calon pengantin dan kader kesehatan atau posyandu Dusun Watugedug, Guwosari, Pajangan, Bantul. Hal ini juga dilaksanakan, sebagai upaya pencegahan, yang berdasarkan data bahwa di Dusun Watugedug bisa dikatakan termasuk kedalam Dusun yang memiliki cukup banyak anak stunting. Kegiatan ini mengusung tema terkait pencegahan stunting dengan perbaikan pola makan dan pola asuh. Masyarakat mengikuti kegiatan dengan antusias, terlihat dari keaktifan peserta penyuluhan yang bergantian mengajukan pertanyaan dan sharing pengalaman seputar mengasuh balita dalam kesehariannya. Warga merasa sangat terbantu dengan adanya penyuluhan ini, mereka dapat mengerti bagaimana pola asuh anak yang baik dan mendapatkan pengetahuan terlebih pengetahuan bagaimana cara agar mencegah adanya anak stunting.
Oleh : Miftakhurrohmah, Mahasiswa KKN-T Kelompok 14 Guwosari
Komentar
Posting Komentar