DEMI SEBUAH MIMPI (CERPEN)
DEMI SEBUAH MIMPI
Oleh : Miftakhurrohmah
Suasana pagi yang cerah, waktu dimana orang memulai beraktifitas. Suara bising kendaraan mulai terdengar, orang-orang mulai bergegas pergi ke sekolah. Tetapi berbeda dengan zakiyah, seorang gadis remaja yang lugu dengan penampilan sederhana. Setiap harinya zakiyah bergegas menuju ke suatu tempat bukan sekolah, melainkan jalan raya tempat dimana zakiyah bekerja. Zakiyah bekerja sebagai penjual koran untuk medapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang tuanya telah melarangnya untuk bekerja, tetapi Zakiyah tetap saja memaksakan diri. Zakiyah bekerja, ingin membantu orang tuanya yang telah bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sekarang Zakiyah tidak bersekolah seperti teman-temannya, karena ia tidak mempunyai cukup biaya untuk bisa melanjutkan sekolah. Ayahnya telah lama meninggal dunia, kini ia hidup berdua bersama ibunya. Ibunya sebagai tulang punggung keluarga, yang mencari nafkah dengan bekerja sebagai tukang sayur keliling. Ia merasa kasihan melihat ibunya yang sering sakit-sakitan, bekerja keras sendirian untuk mendapat uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka dari itu, ia memutuskan untuk bekerja membantu orang tuanya.
Kukurruuyuukkk…!!, suara ayam jantan mulai terdengar, jam menunjukkan pukul 04.00 WIB. Angin berhembus melewati celah jendela kamar Zakiyah. Hawa dingin menusuk kulit tubuhnya.“Zakiyah… bangun nak sudah waktunya sholat subuh” pinta ibu. Suara ibu samar-samar terdengar, Zakiyah terbangun dan menjawab sambil menengok ke arah jam dinding. Dia lalu bergegas untuk menunaikan sholat subuh bersama ibunya. Setiap pagi ia selalu membantu ibunya menyiapkan dagangan untuk berjualan sayuran. Ibunya berjualan sayuran dengan menggunakan gerobak tua yang telah usang. Gerobak itulah yang menemani setiap perjuangan ibunya dalam mencari nafkah.
Pagi sekali, Zakiyah sudah pergi untuk berjualan koran. Ia biasa berjalan kaki dari rumahnya hingga ke jalan raya, yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Sampai di tepi jalan, keadaan sangat ramai, banyak kendaraan berlalu-lalang melewati jalan tersebut. Suara kendaraan terdengar, hingga memekakan telinga.
Zakiyah biasa berjualan di tepi perempatan jalan raya. Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, waktu itulah merupakan kesempatan Zakiyah untuk berjualan Koran. “Korannya pak..? hanya tiga ribu rupiah.” pinta Zakiyah. “Tidak nak, terima kasih.” Jawab salah satu pengendara mobil. Ia terus menawarkan korannya hingga laku terjual. Sang raja siang mulai berada tepat di atas kepala. Cahayanya sangat terik, hawa panas menyelimuti, lelah, dan letih tidak ia hiraukan. Sampai tengah hari, belum satu pun koran yang laku terjual, tetapi Zakiyah tidak putus asa. Dari perempatan jalan, ia berfikir untuk pindah ke tepi jalan dan naik ke atas trotoar. Disana banyak pedagang kaki lima dan para pejalan kaki. Ia berharap, korannya dapat laku terjual.
“Koran-koran…!!, korannya pak,bu..?” teriak Zakiyah di sepanjang jalan sambil menawarkan korannya. “Koran bu.., silahkan dipilih.” pinta Zakiyah sambil menyodorkan tumpukan koran yang ia bawa pada seorang pejalan kaki. “berapa harganya nak?” tanya pejalan kaki itu. “tiga ribu rupiah bu, ibu mau beli?” sahut Zakiyah. “Iya nak, ibu beli satu” jawab ibu itu. “ini korannya, terima kasih..” pinta Zakiyah. “sama-sama nak” jawabnya. Zakiyah merasa bersyukur, salah satu korannya laku terjual.
Jam berganti jam pun berlalu, haripun mulai petang. Zakiyah pulang ke rumah untuk istirahat dan melanjutkan berjualan esok hari. Hari ini Zakiyah pulang dengan hanya membawa beberapa lembar uang rupiah. Jangankan dua puluh ribu, sepuluh ribu atau lima ribu rupiah pun tidak ia dapatkan. Walaupun hanya tiga ribu rupiah, ia tetap bersyukur, karena ia telah mendapatkan uang itu dengan jerih payahnya sendiri. Zakiyah tiba dirumahnya yang sederhana, dengan ruangan sempit dan pengap, terdapat banyak barang hingga berdesakan. Rumah itulah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga.
“Assalamu’alaikum” ucap Zakiyah. “wa’alaikumsalam, ehh sudah pulang nak” jawab ibu. “iya bu” kata Zakiyah. “Ayo sekarang mandi, terus makan nak” kata ibu. “iya bu” Jawab Zakiyah. “Sudah selesai nak?, ayo kita makan. Ibu sudah siapkan tumis kangkung kesukaanmu”sahut ibu. “wahh, terima kasih bu. Biasanya ibu tidak masak sebanyak ini?” kata Zakiyah. “iya, tadi dagangan ibu laku terjual nak” jawab ibu. “wahh syukurlah bu” sahut Zakiyah. “Bagaimana jualanmu tadi nak?” tanya ibu. “Zakiyah hanya mendapat uang tiga ribu rupiah bu, hanya ada satu koran yang terjual” ucap Zakiyah. “tidak apa-apa nak, itu rezeki kamu hari ini. Tetaplah bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan” sahut ibu. “iya bu, Zakiyah mengerti” ucapnya pelan.
Zakiyah tetap bersyukur atas apa yang telah ia dapat, meskipun hanya sedikit. Ia tahu bekerja itu memang tidak mudah, perlu adanya perjuangan dan kerja keras. Ia tahu Tuhan akan memberikan rezeki kepada hamba-Nya melalui apapun itu, dan saat itu ia mendapatkan rezeki melalui ibunya. Oleh karena itu, ia bersungguh-sungguh dan berusaha lebih keras lagi. Semua itu ia lakukan untuk keluarga dan mewujudkan mimpinya.
Keesokan harinya, Zakiyah kembali untuk berjualan koran. Hari itu ia sangat bersemangat, ia berharap korannya dapat laku terjual. Seperti biasanya ia menawarkan dagangan korannya. “koran-koran... pak, bu” teriak Zakiyah. Banyak pembeli yang membeli koran hari itu. Ia sangat bersyukur hari itu ia mendapat penghasilan yang lebih dari cukup. Siang itu, semua korannya laku terjual. Sehingga Zakiyah memutuskan untuk pulang lebih awal.
Zakiyah pulang dengan perasaan senang. Pada saat perjalanan menuju rumah, ia bertemu dengan dua orang pria yang sedang menghisap Gudang Garam dari arah yang berlawanan. Kedua orang itu menghampiri Zakiyah. Jika dilihat dari penampilan kedua orang itu, penampilan mereka seperti preman. Tetapi Zakiyah tetap berprasangka baik kepada orang tersebut. Sebelum ia mengetahui apa tujuan mereka menghampiri dirinya.
“Hey anak kecil..!!”, teriak orang itu.”iya, ada apa ya?” jawab Zakiyah. “ahh banyak ngomong kamu, mana uang setorannya!” sahut preman itu.”uang apa?, saya tidak tahu” ungkap Zakiyah. “Banyak alasan kamu, berikan uangnya!!” kata preman itu. Preman itu berusaha merampas uang milik Zakiyah. Tetapi Zakiyah tidak mau, kemudian ia menghindar dan berlari, orang itu terus mengejar Zakiyah. Ia berlari sekuat tenaga, bagaikan kijang yang berlari kencang, hingga tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tiba-tiba, “bruuukk...!!” bumi seolah bergoyang, dunia seakan-akan berputar dan berubah menjadi hitam.
Suara sirine ambulan mulai berdatangan menyambut ramainya kerumunan orang. Banyak orang berkumpul dan memadati jalan, seperti semut yang sedang mengerumuni gula. Sepertinya telah terjadi sebuah kecelakaan, antara seorang pengendara mobil dengan seorang pejalan kaki. Seorang anak gadis tergeletak di tengah jalan raya. Anak itu adalah Zakiyah, banyak orang yang menolong dan membawanya ke rumah sakit.
Detik berganti menit, menit berganti jam pun berlalu. Perlahan matanya mulai terbuka, dan ia mulai sadar. Zakiyah merasa sangat bingung, ia bertanya-tanya dimana sekarang ia berada. “Dimana aku sekarang?” ucap Zakiyah. Keadaan sangat sepi, hanya ada dia sendiri di ruangan itu. “krieeett..” Tiba-tiba seseorang membuka pintu,“Zakiyah...!!” seseorang itu memanggil namanya. Suara itu tidak asing lagi di telinga Zakiyah, orang itu adalah ibunya.
“Zakiyah.., nak, bagaimana keadaanmu?” tanya ibu. “Zakiyah baik-baik saja bu, tapi mengapa Zakiyah bisa berada disini?” ucap Zakiyah. “Kamu mengalami kecelakaan nak” jawab ibu. Zakiyah mulai ingat kejadian itu, dan menceritakan semua kepada ibunya.
Sesaat Zakiyah berusaha untuk bangun, ia mencoba menggerakkan kakinya, tetapi kaki kirinya terasa sakit sekali. “Bu kenapa kaki kiri Zakiyah sangat susah digerakkan?, rasanya sakit sekali bu” tanya Zakiyah. “sudah nak tidak usah dipaksakan, kaki kamu mengalami patah tulang nak” jawab ibu. “tetapi apakah aku bisa sembuh bu” tanya Zakiyah, dengan perasaan sedih. “Bisa zakiyah, kamu pasti sembuh, asalkan kamu berusaha dan terus semangat untuk bisa sembuh” jawab ibu. “Baiklah bu” ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.
Empat bulan pun berlalu, Zakiyah mulai beraktivitas lagi. Ia berjalan dengan tongkat kayunya yang kokoh, untuk menopang kakinya yang belum sepenuhnya pulih. Ibunya sudah melarangnya untuk berjualan tetapi ia tetap saja memaksakan diri. Suatu hari, ia bertemu dengan teman-temannya. Mereka menghampiri Zakiyah. “Ehh Zakiyah anak miskin, udah nggak sekolah, sekarang jualan koran lagi! emangnya dari jualan ini kamu dapat apa? Apa bisa sekolah lagi??” ujar teman-temannya. Semenjak keadaan Zakiyah saat itu, ia sering diejek oleh teman-temannya. Ia sudah biasa menerima hinaan itu, tetapi ia berusaha berperilaku baik kepada teman-temannya. Ada masa dimana Zakiyah merasakan putus asa, ia merasa dunia tidak adil padanya. Namun, ia selalu teringat dengan nasehat almarhum ayahnya. Semasa hidupnya, ayahnya terus memberikan semangat kepada Zakiyah, mengajarkan bagaimana menjadi pribadi yang kuat, menerima cobaan dengan ikhlas, mengajarkan untuk terus berjuang dan pantang menyerah untuk bisa menggapai apa yang diharapkan. Berkat dorongan-dorongan yang positif dari keluarganya, Zakiyah tetap semangat menjalani hidupnya. Peran keluarga sangat berarti baginya, membuat Zakiyah tetap bangkit.
Langit yang cerah lama kelamaan hilang tertutup awan hitam yang datang. Suara gemuruh menggelegar bersahut-sahutan, seakan-akan langit akan runtuh. Rintik air mulai berjatuhan dan semakin deras jatuh ke bumi. Zakiyah yang sedang berjualan kemudian mencari tempat untuk berteduh. Mungkin disana ia akan terjebak hujan hingga sore hari. Tak lama kemudian, datang seorang pria berdasi duduk untuk berteduh. Pria itu berbincang-bincang dengan Zakiyah. Ia bermaksud untuk membeli koran. Melihat keadaan Zakiyah, pria itu ingin lebih mengetahui tentang kehidupan Zakiyah. Maka ia kemudian berbincang-bincang mengenai keadaannya. Zakiyah menceritakan semua kisah-kisah hidupnya. Pria itu merasa tertarik dengan cerita kisah hidup Zakiyah. Ia sebenarnya adalah seorang penulis terkenal.
“Nak, mendengar cerita kamu tadi, saya turut prihatin atas semua cobaan yang telah kamu alami” ucap pria itu kepada Zakiyah. “Nak, memang apa cita-cita kamu nak?” tanya pria itu. “Saya ingin menjadi seorang penulis terkenal pak, yang bisa bersekolah tinggi hingga ke luar negeri seperti keinginan ayah saya” ucap Zakiyah. “Bagus nak cita-cita mu, saya pun adalah seorang penulis” ujarnya. “Keinginan saya dari dulu ingin menjadi seorang penulis pak, seorang penulis terkenal yang dapat melahirkan karya-karya yang abadi” ucap Zakiyah. “wahh bagus sekali nak, bagaimana kalau kamu menjadi penulis cerita di buku dan majalah yang saya rekomendasikan. Kamu bisa mengirimkan hasil karya-karyamu nak, dan kamu akan mendapat imbalan atas hasil karyamu.” Kata pria itu. “Apakah benar pak? Sungguh? Terima kasih pak, saya akan mencoba.” Jawab Zakiyah, penuh harap.
Zakiyah mencoba untuk mengirimkan hasil karyanya. “Pak, saya telah mencoba mengirimkan hasil karya saya, bagaimana menurut bapak?” ucap Zakiyah. ”Ya nak. Saya telah menerimanya, kamu memang berbakat nak!” jawab pria itu. “Nak, terimalah pemberian saya yang tidak seberapa ini sebagai tanda atas hasil karyamu dan semoga dapat bermanfaat untuk mu” ujar pria itu. “Alhamdulillah, terima kasih banyak pak, saya masih tidak menyangka” jawab Zakiyah dengan penuh rasa syukur.
Sejak tawaran itu, Zakiyah terus semangat untuk menciptakan karya - karyanya. Menulis menjadi hobi yang sangat ia suka. Hingga saat ini ia bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk biaya berobat, dan kakinya pun berangsur-angsur sembuh. Dengan karya tulisnya itu, Zakiyah kini bisa bersekolah kembali, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan menjadi siswa teladan. Suatu ketika, bu siwi guru kelasnya, menunjuk Zakiyah mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan karya tulis. Ia mencoba mengikuti lomba tersebut, dan alhasil ia berhasil lolos sampai ke tingkat nasional. Zakiyah tidak menyangka dirinya dapat berhasil menjadi seorang juara.
Sejak saat itu, Zakiyah belajar dengan sungguh-sungguh, dan terus semangat untuk mengikuti perlombaan tingkat nasional. Sampai pada akhirnya hari yang ditunggu tiba, detik-detik penentuan kejuaraan. Besar, kecil, tua, muda, semua menghadiri acara tersebut. Zakiyah berharap ia dapat memenangkan kejuaraan itu. Hingga pada akhirnya, “Juara pertama Zakiyah Nurmala! harap naik ke atas panggung.” namanya dipanggil menjadi juara pertama. Ia sangat gembira, teman-temannya sangat bangga kepadanya. Mereka pun kini tidak lagi merendahkan Zakiyah, sekarang mereka sadar bahwa temannya itu adalah seorang yang hebat dan kini mereka menjadi teman baik Zakiyah. Zakiyah teringat walaupun dulu teman-temannya meremehkan dirinya dan ia merasa di titik terendah dalam hidupnya, sekarang ia bisa membuktikan bahwa dirinya bisa bangkit dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk dirinya.
Zakiyah sangat berterima kasih, semua ini berkat dukungan guru, teman-teman baiknya, serta keluarganya, yaitu ibu yang selalu memberikan dukungan kepada dirinya. Zakiyah pun merasakan sedih, karena di tengah kebahagiaannya, ia tidak bisa bersama dengan ayahnya dan berbagi kebahagiaan dengannya. Ia sadar, walaupun ia tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah disampingnya, tetapi ia tetap bangkit dan semangat untuk meraih cita-cita dan harapannya. Hingga kini ia merasa gembira atas prestasi yang telah di raihnya. Dengan dirinya berhasil menjadi penulis, ia telah membuat ibunya merasa bangga kepadanya.
Seorang gadis remaja, yang kini mulai beranjak dewasa. Zakiyah menjadi seorang gadis yang kuat, pekerja keras, dan seorang gadis yang hebat. Zakiyah mendapatkan beasiswa untuk bisa melanjutkan sekolah di perguruan tinggi dan bahkan mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Zakiyah sangat bersyukur kepada Tuhan, karena ia dapat mewujudkan mimpinya, dari seorang gadis keluarga biasa hingga bisa merasakan kuliah seperti anak orang berpunya. Akhirnya, mimpi ayahnya itu, dapat ia jadikan nyata. Ia menjadi seorang mahasiswa yang siap untuk berjuang dan meraih cita-cita. Semua hal yang kita anggap tak bisa kita raih, dengan berusaha, ikhtiar dan berdoa, kita pun pasti sanggup untuk bisa mewujudkannya. Demi sebuah mimpi, kita harus sanggup berjuang untuk bisa mencapainya. Keluarga, menjadi salah satu harta paling berharga yang harus kita jaga dan menjadi penguat kita untuk menjalani hidup dan meraih impian kita. Jangan biarkan mimpi hanya tetap menjadi mimpi, tetapi berusahalah untuk mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Semoga dengan membaca cerita ini, dapat menumbuhkan semangat kita meraih mimpi. Janganlah berputus asa, kejarlah mimpi mu dan jangan menyerah. Semangat untuk kalian semua, kalian pasti bisa!!
BalasHapus